Quo Vadis Amien Rais?
![]() |
![]() |
![]() |
| Saturday, 05 July 2008 | |
|
Oleh : Ahmad Sumargono, S.E, M.M (Ketua GPMI, Kandidat Doktor Ilmu Pemerintahan UNPAD) Pernyataan Amien Rais dalam wawancara dengan majalah Tempo 4 Mei 2008 bertajuk : Ahmadiyah Punya Hak Hidup untuk ke sekian kalinya membuat saya terperangah. Dengan semangat membela Ahmadiyah Amien berkata, ”Saya mencium ada kelompok siluman yang melakukan semacam operasi intelijen untuk memperkeruh suasana, menghancurkan ketenangan masyarakat.” Tuduhan ini bukan alang-kepalang daya pressure nya, karena diketahui bersama komponen umat Islam terbesar, atau Islam mainstream di negeri inilah yang justru berada di balik protes-protes keras pembubaran Ahmadiyah. Wabil-khusus tentu saja MUI (Majlis Ulama Indonesia) yang telah dua kali mengeluarkan fatwa tegas bahwa Ahmadiyah adalah aliran sesat dan menyesatkan Amien menyetarakan protes-protes Ahmadiyah itu dengan konflik Islam-Kristen di Ambon. Kata Amien, “Sebelumnya tidak pernah ada konflik Islam-Kristen di sana, tiba-tiba muncul.” Amien sama sekali tidak menyebut akar masalah inti konflik horizontal Islam-Kristen Ambon itu, jelas-jelas terjadi karena dimulai pertamakali dengan peristiwa penyerangan pihak Kristen terhadap kelompok Islam. Umat Islam yang baru merayakan Idul Fitri , tiba-tiba diserbu, dibantai secara membabi-buta. Ketika konflik berlarut-larut, umat Islam semakin tersudut, dan terus-menerus dibantai, datanglah bala bantuan dari Laskar Jihad pimpinan Ust Jafar Umar Thalib. Posisi pun berubah, umat Islam bahkan banyak memenangkan peperangan dalam berbagai front yang ada di Ambon dan sekitarnya. Dalam posisi umat Islam di atas angin, Amien Rais sepulang dari kunjungan ke AS (1999), tiba-tiba membuat pernyataan yang amat mengejutkan, yakni: Mengundang Pasukan Asing semacam Pasukan Perdamaian PBB agar masuk ke Ambon. Ide Ketua Muhammadiyah (ketika itu) sungguh aneh. Pulang dari Amerika Serikat mendadak-sontak mempunyai pemikiran yang sarat anasir aspirasi di luar Islam. Bisa dibayangkan jika benar-benar pasukan asing didatangkan ke Ambon, bisa jadi sampai hari ini konflik di Ambon akan terus berkobar. Sikap Amien Rais yang sering kontroversial dalam setiap pernyataannya itu memang sangat menarik perhatian pers juga publik yang membacanya. Tulisan-tulisan Amien Rais yang merinci masalah Tambang di Busang juga Freeport, (1997), dielu-elukan masyarakat khususnya umat Islam. Dengan angka-angka yang amat gamblang Amien Rais membongkar ketidakadilan kontrak-karya di Busang dan Freeport. Amien menyebutkan lokasi tambang emas Freeport kini menjadi kubangan raksasa berupa danau. Seluruh isinya, gunung emas sudah pindah ke Amerika Serikat. Sikap kritis Amien yang pro rakyat dan sebaliknya dengan berani menghantam rezim Soeharto, telah melambungkan nama Amien Rais menjadi pahlawan baru. Saya sendiri sejak awal sangat bersahabat dan bersimpati kepada Amien Rais. Karena itu tatkala Amien Rais semakin melambung namanya karena sikap kristisnya kepada rezim Soeharto, hal ini telah membuat rezim Soeharto berang dan merekayasa agar Amien Rais dicopot jabatannya sebagai Ketua Dewan Pakar ICMI. Habibie pun ikut menekan Amien agar mundur. Di sini, saya membela posisi Amien Rais dan menulis duduknya masalah secara gamblang di Harian Kompas, “Amien Rais dan Masa Depan ICMI” (Kompas 24 Februari 1997). Tetapi bersamaan waktu yang terus berjalan dengan jatuhnya rezim Soeharto, sepak-terjang Amien Rais terus bermunculan yang “aneh” buat saya. Karena sikapnya dalam konflik Islam-Kristen Ambon, ingin mendatangkan pasukan asing, semacam Pasukan Perdamaian PBB itu, Adian Husaini menulis buku berjudul: Amien Rais dan Amerika Serikat, yang sarat kritik pedas. Buku yang amat gamblang membedah penampilan Amien Rais yang justru konsisten “mengabdi” kepada kepentingan asing ini tidak pernah dijawab oleh Amien Rais. Sikap Amien Rais di hari-hari “Musim Semi” umat Islam demam membentuk partai politik Islam, pasca lengsernya Presiden Soeharto, sekitar Juni-Juli 1998, kembali pilihan dan sikap Amien Rais, menjadi tanda tanya besar, buat saya. Ketika itu saya bersama-sama tokoh-tokoh Islam lainnya sibuk pula mempersiapkan partai Islam penerus Masyumi yang kemudian menjadi Partai Bulan Bintang sekarang. Susunan pengurus DPP (sementara) sudah sepakat ditentukan melalui rapat-rapat di kediaman Bapak HM Cholil Badawi dan DR.Anwar Haryono SH. Ketua Umum pun disepakati akan duduk Yusril Ihza Mahendra. Namun tatkala Amien Rais bertandang ke rumah Pak Anwar Haryono, Juli 1998 ditawarkanlah agar Amien Rais mau duduk sebagai Ketua Umum Partai Bulan Bintang. Amien Rais pun dengan mantap menyanggupi tawaran itu. Sdr.Yusril pun (saat itu sedang berada di Banyuwangi Ja-tim) langsung ditelepon dan siap posisinya digantikan Amien Rais dan Yusril hanya duduk sebagai Sekjen. Adegan mengharukan pun tercipta. Semua yang hadir larut dalam tangis dan saling peluk, dimana Amien Rais pun memeluk dan dipeluk Anwar Haryono yang hanya bisa duduk di kursi roda karena mengidap stroke. Semua orang menjadi lega dan ditutup dengan doa bersama untuk kesuksesan partai yang diharapkan menjadi partai penerus Masyumi itu. Apalagi Anwar Haryono dikenal sebagai juru bicara Masyumi setelah partai ini dipaksa bubar oleh rejim Soekarno pada 1960. Amien Rais pun pamit segera pulang karena hari itu hari Jumat dan harus segera melaksanakan shalat Jumat di kantor pusat PP Muhammadiyah Menteng Raya 62 Jakarta. Kejadian yang amat dramatis terjadi hanya beberapa jam saja setelah adegan peluk-pelukan mengharukan di rumah Bp Anwar Haryono. Amien Rais tiba-tiba muncul di layar televisi seusai shalat Jumat di kantor PP Muhammadiyah. Ketika wartawan menanyakan, apakah Pak Amien mantap akan memimpin Partai Bulan Bintang ? Amien menjawab,”Saya akan mendirikan partai lain yang lebih terbuka.Bagi saya partai seperti Partai Bulan Bintang, ibarat baju akan ‘kesesakan’ jika saya pakai”. Pernyataan ini kini dicatat sejarah menjadi pendirian seorang Amien Rais. Ia kemudian memprakarsai berdirinya PAN (Partai Amanat Nasional) bersama-sama Goenawan Mohammad, Albert Hasibuan dll. Platform partai pun dikabarkan disiapkan orang-orang Goenawan Mohammad, walau boss Kelompok Tempo ini tak lama setelah PAN berdiri justru meninggalkan PAN.
Bela Ahmadiyah Kembali ke pernyataan Amien Rais soal Ahmadiyah di awal artikel ini. Seharusnya saya tidak perlu terkejut karena sudah memiliki catatan historis tentang Amien Rais. Komentarnya terhadap FUI (Forum Umat Islam) memang menyakitkan. FUI dituduh sebagai organisasi siluman. Padahal FUI ini merupakan gabungan lebih 50 Ormas Islam termasuk Muhammadiyah berada di dalamnya. Saya tahu Amien tahu persis personel di tubuh FUI tak lain justru para sahabatnya sendiri yang pada 2004 lalu justru mendukungnya maju menjadi Capres. Di tengah keragu-raguan dan track-record Amien yang kelabu itu, toh Amien Rais tetap dijagokan seluruh komponan politik Islam, khususnya PKS juga tokoh-tokoh Islam, misalnya KH.Abdul Rasyid Abdullah Syafii (Tokoh ulama Betawi kharismatis yang kini menjadi pimpinan FUI). Walau demikian menjadi gamblang pula, protret Amien Rais yang hari ini bisa tampak sangat melawan Amerika Serikat, namun nanti sore dia sangat membela kepentingan Paman Sam. Kata ungkapan Jawa : “Isuk Dele Sore Tempe” (Pagi masih berupa Kedelai dan sore hari sudah berubah menjadi Tempe). Saya teringat pada sebuah diskusi di Universitas Tri Sakti awal 1980-an sepulang Amien Rais dan Nurcholish Madjid dari studi di Chicago University. Sikap Nurcholish yang cenderung ingin mencari selamat itu disindir Amien Rais dengan menyitir anekdot Kyai, Ular dan Kodok Cerita Amien Rais disambut gelak tawa yang meledak karena sikap kyai yang sangat plin-plan itu dilekatkan ke tubuh Nurcholish Madjid dengan sangat jitu. Kini saya memastikan bahwa sikap kyai seperti itu ternyata juga melekat di tubuh Amien Rais. Sebagai mubaligh yang hampir setiap hari menghampiri umat dan masyarakat luas di tingkat grass-roots, saya kini acapkali disergap pertanyaan jamaah yang awam. Bagaimana kabar Pak Amien Rais? Menurut rakyat awam, kehancuran bangsa Indonesia saat ini mutlak menjadi tanggungjawab Amien Rais. Sikapnya yang jelas-jelas Plin-Plan bahkan membawakan agenda asing (seperti sikapnya masalah Ahmadiyah), kini terbuka dengan senyata-nyatanya. Kini menjadi pertanyaan besar Ada apa sebenarnya Amien Rais dengan Ahmadiyah ? Sebuah dokumen awal reformasi niscaya bisa membantu kita. Amien Rais saat menjabat sebagai Ketua MPR-RI, pada 22 April 2000 pernah menerima kunjungan Kholifah Ahmadiyah Mirza Thahir Ahmad. Kunjungan pemimpin Ahmadiyah ini diatur oleh Dawam Rahardjo, dalam kapasitas sebagai salah satu pimpinan Muhammadiyah. Mirza Thahir sempat berkunjung ke berbagai kota di Jawa dan mengumumkan pencanangan Indonesia (menjadi) Pusat Ahmadiyah di-Dunia.Di Yogya Mirza juga mengumumkan hendak membuka Perkampungan Islam Internasional dengan lahan seluas 500 hektar bekerjasama dengan Sri Sultan Hamengkubuwono. Ketika itu, foto Amien Rais saat menerima kunjungan cicit Mirza Ghulam Ahmad ini dimuat hampir seluruh media massa baik cetak dan elektronik. Kunjungan ini pun diprotes oleh Kelompok Khatamunnubuwah dari Pakistan yang sengaja mengirimkan 50 orang utusannya ke Indonesia untuk memprotes PP Muhammadiyah yang telah menjalin kerjasama dengan Ahmadiyah/ Mirza Thahir Ahmad. Dari balik cerita ini bisa diduga mengepa Amien Rais begitu membela Ahmadiyah. Quo Vadis Amien Rais. Umat Islam niscaya tidak akan mendukungnya lagi, Wallahu’alam bissawab. [red/www.suara-islam.com] |
Munarman, SH: Kita Diintervensi
![]() |
![]() |
![]() |
| Thursday, 24 July 2008 | |
Ternyata Intervensi Amerika di Indonesia sudah berlangsung lama. Intervensi itu sudah hampir meliputi seluruh sektor kehidupan di Indonesia, tak terkecuali di sektor keagamaan.
Apa tujuan dari intervensi itu? “Ya kendali. Kendali atas arah kebijakan politik dan ekonomi Indonesia. Supaya Indonesia tidak bisa mengelola sumber daya alamnya yang akan digunakan untuk kemakmuran rakyat,” ujar Munarman, ketua An Nahsr Institute. Berikut wawancara lengkap Munarman dengan wartawan Tabloid Suara Islam. Benarkah intervensi Amerika di Indonesia sudah begitu dalam? Kalau bicara soal intervensi Amerika baik dari skala maupun dari segi waktu, itu sudah berurat berakar. Hampir seluruh sektor kehidupan di Indonesia itu sudah ada antek-antek Amerikanya. Tidak terkecuali di sektor keagamaan. Di bidang keagamaan kita bisa saksikan kader-kader intelijen AS sudah bercokol di situ, mempropagandakan ide pluralisme dan Islam liberal. Di bidang ekonomi kita cek ada Mafia Berkeley. Di bidang pertahanan ada yang namanya lembaga-lembaga kajian strategis. Di bidang energi juga ada kader-kader mereka yang dibina dengan pendekatan-pendekatan bangunan-bangunan baik itu di perusahaan maupun melalui kader-kader mereka di pemerintahan. Di pemerintahan malah luar biasa. Mereka menempatkan orang-orangnya baik di bidang polkam, di bidang kesra maupun bidang ekonomi. Jadi di tiga bidang besar itu ada agen-agen Amerika yang fungsinya untuk menjalankan agenda Amerika di Indonesia. Sejak kapan intervensi AS di negeri ada? Dari segi waktu mereka telah beroperasi sejak perang dunia ke II berakhir. Keberadaan lembaga-lembaga yang membiayai kader-kader intelijen ini dimulai dari lembaga-lembaga swadaya masyarakat misalnya the Asia Foundation yang sudah bekerja sejak tahun 1955/1956. Dalam bentuk apa intervensinya itu? Kalau bentuk intervensinya banyak sekali. Misalnya dalam pembuatan berbagai produk perundang-undangan. Mereka menggunakan konsultan-konsultan yang disebut tim expert (ahli) untuk membentuk apa yang disebut tim asistensi program. Technical assistant, judulnya. Lalu dimulai dengan pendekatan-pendekatan teknis. Misalnya pendekatan melalui tim teknis untuk membuat perundang-undangan. Tim teknis konsultan untuk membangun capacity building dari birokrasi, tim teknis untuk membangun sebuah model sistem hukum. Itu mereka semua sediakan. Yang tentu saja biaya yang dikeluarkan ke Indonesia itu dalam bentuk utang. Memang pertama diberikan dalam bentuk hibah, namun dana hibah itu hanya 30 persen dari total nilai proyek yang mereka buat. Jadi 70 persennya harus utang. Konsultan-konsultan itu dibayar dengan utang itu. Ya kendali. Kendali atas arah kebijakan politik dan ekonomi Indonesia. Supaya Indonesia tidak bisa mengelola sumber daya alamnya yang akan digunakan untuk kemakmuran rakyat Indonesia. Juga politik luar negeri Indonesia terus mendukung status quo global yang disebut dengan epolurus unum (satu pemerintahan dunia) atau the new world order (tatanan dunia baru) yang dibangun oleh kaum Yahudi melalui tangan-tangan mereka. Supaya tidak diganggu gugat. Kalau Indonesia secara politik independen maka orang-orang Indonesia akan mempertanyakan posisi PBB, WTO, GAAT dan lainnya. Kenapa dipertanyakan? Karena lembaga-lembaga itu merupakan bagian dari cara untuk mengatur dunia. Lembaga itu merupakan bagian dari cara penindasan dan penguasaan global yang dilakukan oleh golongan Yahudi dibantu kaum kafir lainnya. Inilah yang menjadi sebab dari kerusakan dunia sekarang. Kalaulah Indonesia mandiri secara ekonomi tentu saja akan menimbulkan kesejahteraan dan perusahaan-perusaan mereka tak mendapat untung. Nah secara politik dalam negeri memang mereka menginginkan negeri ini berpecah belah dalam berbagai golongan yang saling bertengkar, yang itu akan membuat mereka mudah melakukan politik pecah bambu. Wah mereka itu bekerja dengan cara yang sangat rapi. Mereka biasanya terlebih dahulu melakukan survei. Survei tersebut melibatkan tokoh-tokoh dan intelektual di Indonesia yang tidak sadar bahwa hasil survei yang mereka berikan itu akan akan digunakan sebagai bahan-bahan bagi surveyor-surveyor Amerika yang tentu di belakangnya adalah zionis seperti Rand Coorporation, CGI dan lainnya. Tapi tokoh-tokoh dan intelektual di Indonesia senang hati bekerja sama dan memberikan informasi dengan harga yang murah. Itulah cara mereka bekerja. Nah setelah memetakan dan memiliki informasi, mereka kemudian membuat rencana pengendalian, dan rencana untuk melakukan pecah belah serta rencana melakukan politik belah bambu. Berikutnya adalah menyusun kebijakan apa yang cocok untuk mendukung supaya masyarakat, secara ekonomi dan politik Indonesia tetap dalam kendalinya. Itulah cara mereka. Apa itu juga yang Anda rasakan saat aktif di LSM dulu? Oh itu nyata. Bukan khayalan. Bukan sebuah sikap yang paranoid. Sepengalaman saya di LSM selama lebih kurang hampir 15 tahun, memang mereka itu menawari berbagai agenda semisal agenda perburuhan. Jadi LSM-LSM itu sebetulnya lebih banyak diundang untuk memasukkan proposal. Jadi bohong dan omong kosong kalau LSM itu merancang program berdasar kebutuhan masyarakat. Tetapi LSM itu merancang program berdasarkan program yang ada pada lembaga-lembaga pendanaan atau funding-funding agency, yang sudah tentu lembaga-lembaga itu adalah perpanjangan tangan atau alat dari sebuah pemerintahan global yang dikendalikan Zionisme, Freemansonry dan Illuminati. Mereka sebenarnya tahu. Cuma ini kan karena kebutuhan perut. Karena mereka butuh banyak uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sementara lapangan kerja tidak tersedia. Karena mereka malas dan tidak mau bekerja keras dengan tenaganya, maka mereka memilih profesi LSM yang hanya mengandalkan pikiran, karena lebih gampang mendapatkan uang. Kalau kita melihat agen-agen di Indonesia, itu terdiri dari berbagai tingkatan. Tingkatan pertama adalah aktivis-aktivis LSM yang masih muda, lugu yang dia sendiri sebetulnya tidak paham apa yang dikerjakan. Jadi mereka sebenarnya mencari kerja semata. Lulus dari perguruan tinggi, mencari pekerjaan di mana-mana susah, akhirnya mereka mencari pekerjaan di LSM. Setelah itu mereka meningkat menjadi organisator-organisator. Kemudian mereka meningkat menjadi pembuat proposal. Nah kendali-kendali itu semua ada yang mengaturnya, yakni orang yang lebih senior lagi dan levelnya lebih tinggi. Dia lah yang mengatur LSM mana yang harus diberi oleh funding agency, dan LSM mana yang harus disingkirkan. Tokoh-tokoh seniornya seperti Goenawan Mohamad cs itu. Siapa tokoh yang paling aktif ikut merancang strategi itu? Ada banyak ya. Karena agennya sudah banyak sekali. Tapi yang paling aktif ya presiden. Dia kan direkrut sejak lama, ketika mengikuti pendidikan militer di Amerika Serikat. Di dunia ekonomi ada Sri Mulyani. Juga ada Chatib Basri yang jadi staf ahli menteri keuangan. Kelompoknya di Amerika itu banyak. Kita kenal mereka itu dengan kelompok Mafia Berkeley. Di bidang sosial ada Goenawan Mohamad. Kemudian di bidang keagamaan ada Ulil Abshar Abdalla yang sekarang lagi ada di Amerika. Ada juga tokoh dari ormas Islam besar yang berhasil direkrut. Mereka berhasil disusupkan dengan ide Islam damai atau Islam rahmatan lil alamin, katanya. Itu sebenarnya hanya sebuah nama. Yang dimaksud mereka dengan Islam rahmatan lil alamin itu adalah sebenarnya Islam versi Barat. Islam yang memberi keuntungan bagi Barat. Mereka gunakan jargon-jargon atau istilah-istilah dalam khazanah Islam untuk mengecoh umat Islam. Di militer mereka membangunnya lewat lembaga pendidikan militer. Kalau kita ingat di tahun 1950-an di militer Indonesia ada lembaga pendidikan yang namanya Sesko. Di situlah mereka merekrut militer. Kalau kita lihat Soeharto sendiri direkrut untuk “merancang” dan “terlibat” dalam peristiwa G 30 S PKI karena mengikuti Sesko Angkatan Darat ke II di Bandung. Intervensi itu dilakukan juga melalui lembaga intelijen. Jadi secara militer intervensi dilakukan melalui lembaga pendidikan militer, kemudian memberikan beasiswa dan memberi kesempatan kepada militer-militer Indonesia melalui program IMET (Indonesia Militery Education Training). Setelah tentara Indonesia dituduh melakukan pelanggaran HAM, program ini dihentikan. Padahal program ini dulu dirancang untuk merekrut perwira-perwira militer Indonesia. Jadi banyak perwira-perwira Indonesia yang lulus dari program IMET, ketika pulang ke Indonesia, berdasar artikel-artikel atau penyataan-pernyataan yang dikeluarkan senator-senator Amerika maupun petinggi-petinggi Amerika, mereka bisa angkat telepon setiap saat untuk mendapatkan informasi apa saja tentang Indonesia dari para perwira Indonesia tersebut. Perwira-perwira yang berhasil dididik lewat IMET ini kemudian ditempatkan pada pos-pos yang strategis di militer di zaman Soeharto. Tetapi kemudian, ketika mereka menuduh tentara Indonesia melakukan banyak pelanggaran HAM, mereka menghukum tentara Indonesia. Jadi politik Amerika seperti itu. Mereka mendidik, kemudian kalau tahu anak didiknya itu dianggap merugikan maka dihukum, karena mereka tahu siapa anak didiknya itu. Inilah yang menjadi pola sebagaimana dulu Saddam Huesin didukung habis-habisan melawan Iran. Kemudian ketika Saddam Husein itu tidak lagi patuh, Saddam husein dicampakkan atau dikudeta. Di militer Indonesia juga sama. Sekarang polanya berubah. Mereka menggunakan unit operasional yang disebut dengan Densus 88. Saya juga bisa memprediksi kalau isu teroris ini berakhir, maka Densus 88 juga akan dihukum oleh Amerika setelah mereka tak diperhatikan lagi. Dulu ketika militer Indonesia diperlukan mereka didukung habis-habisan. Sehingga Indonesia tak pernah masuk dalam catatan negara yang melakukan pelanggaran HAM, karena selalu di-back up Amerika. Tapi ketika tak diperlukan, militer Indonesia dihujat habis-habisan sebagai pelanggar HAM terbesar. Nah Densus 88 juga sama nantinya. Setelah tidak diperlukan akan dicampakkan, akan disia-siakan, dan bisa jadi orang-orangnya akan dihukum karena telah melakukan pelanggaran HAM. Memang begitu polanya. Jadi dua pihak yang sama-sama dilatih tapi kemudian diadu. Ada LSM-LSM itu yang memang direkrut untuk mengkritisi militer. Sederhananya polanya kan begini: mereka dilatih untuk menjalankan agenda politik mereka, misalnya invansi ke Timor Timur, kemudian membangun srtuktur dan infrastruktur politik Orde Baru dulu yang banyak melakukan represif terhadap rakyat. Memang harus berjalan seperti itu. Yang dijadikan tiang utama Orde Baru saat itu adalah militer salah satunya, selain birokrasi dan partai. Tapi kemudian mereka itu kan perlu mendapat informasi dari sumber lain. Untuk mendapatkan sumber informasi lain itu maka dilatihlah anak-anak LSM untuk mengawasi apa yang mereka bikin supaya ada laporan apakah program itu berjalan atau tidak. Jadi perkelahian itu berjalan karena LSM itu memberikan laporan kepada majikannya, di mana laporan itu dibutuhkan Amerika untuk mengetahui apakah agenda yang dijalankan agen mereka di kalangan militer itu berjalan sesuai dengan keinginannya atau tidak. Jadi perkelahian itu bukan ideologis sifatnya. Beralih ke trilateral commission, Anda tahu itu? Itu adalah kumpulan lembaga yang terdiri atas orang-orang politik dan orang-orang dari kalangan akademisi. Mereka berfungsi mengkaji bidang politik ekonomi, politik energi, dan politik dalam pengertian keamanan regional. Kajian itu dilakukan dalam pertemuan tahunan. Trilateral commission itu terdiri dari negara-negara Amerika Utara yaitu Kanada dan Amerika Serikat, negara-negara Eropa yang tergabung dalam Uni Eropa, dan kawasan Asia yang dipimpin Jepang. Desainer tiga kawasan besar itu adalah desain dari hasil protokol Zionis. Ketiganya itu harus ada dalam kontrol mereka. Trilateral commission inilah yang berfungsi sebagai lembaga politik dan keamanan bagi tiga wilayah itu. Selain untuk mengetahui secara detail kondisi wilayah itu, pertemuan itu juga sebagai sumber rekrutmen dari tokoh-tokoh, aktivis serta akademisi yang memimpin ormas-ormas Islam, karena dianggap musuh utama Barat saat ini adalah Islam. Di sinilah kemudian diundang Syafi’i Maarif, Azyumardi Azra dan orang-orang di Pertamina. Orang Pertamina diundang untuk politik energi atau keamanan energi. Untuk melihat sejauh mana kesinambungan supply energi dari kawasan Asia terutama Indonesia kepada negara-negara Barat. Tapi mereka para katrok atau orang kampung yang jadi profesor dan mendapat kedudukan itu dengan senang hati berbicara dalam makalahnya tentang apa saja. Inilah ciri-ciri orang katrok atau kampung yang tidak ngerti itu. Mereka itu menguntungkan musuh-musuh Allah karena tidak lain tidak bukan trilateral commission itu dibentuk untuk menguasai dunia. Sadar gak mereka itu? Ya sasarannya sebenarnya sudah hampir di semua sektor. Tidak ada sektor yang bersih dari itu. Tapi yang paling pokok itu di bidang perekonomian, yaitu kementerian-kementerian energi dan sumber daya mineral, kemudian kementerian keuangan dan kementerian terkait dengan pengelolaan sumber daya alam. Juga mereka mulai merambah pada departemen agama. Misalnya dengan menyusupkan Musdah Mulia di Litbang Depag, Nazaruddin Umar di Dirjen Bimas dan masih banyak yang lainnya. Karena mereka melihat ideologi Islam ini terus hidup. Nah kemudian yang paling penting mereka masuk ke dunia pendidikan dan kebudayaan. Tujuannya agar ideologi mereka terus berkembang. Cuma mereka itu bermain di balik layar semua, melalui program anti agamanya itu. Apalagai fungsi dari pertemuan tahunan trilateral itu? Pertemuan tahunan adalah untuk mempererat persekutuan di antara mereka secara emosional. Tiap pertemuan itu ada agenda. Agenda itulah yang kemudian dibawa oleh orang seperti Yusuf Wanandi, salah seorang member tetap triliteral commission. Di Indonesia dia kan bekerja di CSIS. Di Indonesia itu CSIS mengumpulkan tokoh-tokoh LSM. CSIS itu kan dibentuk oleh CIA. Di setiap negeri muslim itu memang ada yang namanya center strategic center strategic atau international strategy and study. Di Malaysia, dikenal ISIS (Institute for Strategic and International Study), di Indonesia ada CSIS (Centre for Strategic and international study), di Mesir juga ada. Jadi IS-IS itu ada di hampir semua negara. Dan itu satu grup. Mereka itu di bawah kendali CIA. Di bawah kendali lembaga Yahudi, Zionis, Illuminati dan Freemansonry. Lembaga-lembaga think thank itu ada di hampir semua negara. Intervensi Amerika di Indonesia ada kaitannya dengan agenda trilateral commosion? Oh iya. Strategi yang dilakukan di antaranya melalui kurikulum pendidikan supaya kurikulumnya lebih sekuker. Supaya orang tidak terikat agama. Ekonominya itu supaya menguntungkan perusahaan-perusahaan Amerika. Dan tentu saja perusahaan-perusahaan Amerika itu tidak lebih tidak kurang adalah grup dari keluarga Yahudi di Amerika. Sebenarnya dengan logika yang sederhana orang yang bodoh itu juga tahu. Jadi cara kerja seperti itu adalah cara kerja berdasarkan kepentingan. Jadi omong kosong kalau tokoh-tokoh itu berbicara tentang kebhinekaan, tentang ke-Indonesiaa atau tentang kebangsaan. Ya, misalnya terbukti, kaum sekuler itu selalu mengatakan kalau syariat Islam itu diterapkan Indonesia akan pecah. Dari sini sebenarnya yang mereka cintai itu bukanlah NKRI-nya, bukan takut perpecahan, tapi mereka takut meninggalkan kekufuran itu. Mereka lebih memilih kekufuran daripada bersatu di bawah syariah Islam dalam naungan NKRI. Sebenarnya itu kan dari kalimatnya itu. Jadi jangan di balik balik. Jadi orang ini merasa terancam kalau syariah Islam Indonesia akan terpecah. Padahal tidak ada agenda satu pun dari penegakan syarian Islam akan memecah belah NKRI. Artinya apa yang mereka cintai itu bukan NKRI tapi kekufuran. Karena dengan system kufur seperti sekarang mereka ini sudah hidup nyaman. Ya, jadi strategi pecah belah Indonesia adalah untuk mengisolasi umat Islam supaya dikepung oleh negara-negara non Islam. Kalau pun ada wilayah Islam, ya itu disekulerkan. Dan yang kedua nanti ada pasar baru yang diciptakan. Ini pasar dunia jika dilihat dari politik ekonomi kapitalisme telah jenuh. Kapitalisme ini kan sudah mau bangkrut. Coba lihat ekonomi Amerika sudah mulai turun ekonominya. Secara teori ekonomi kapitalisme itu, harus dibuka pasar baru. Nah kalau ada negara baru nanti ada negosiasi baru. Ada investasi baru dong. Kalau ada investasi baru berarti ada proses produksi ekonomi yang baru. Setelah itu ada rente ekonomi yang baru. Kalau begitu apa yang perlu dilakukan umat Islam? Tentu saja kembali kepada Alquran dan al hadist. Konsekwensi kembali kepada Allah itu adalah melakukan perjuangan. Bukan hanya sekadar sholat panjang di malam hari setelah itu tidur di siangnya. Jadi sekarang yang penting umat Islam segera menyatukan diri untuk segera menegakkan syariat Islam. Sebab sumber masalah umat Islam di negeri ini adalah tidak tegaknya syariat Islam. Karena itu umat Islam harus berjuang untuk menegakkan syariat Islam. Insya Allah kalau syariat Islam tegak akan mendapat ridla Allah dan akan memberikan keberkahan bagi umat Islam sendiri. Perjuangan itu memang harus dilakukan melalui jalur politik. Karena itu para tokoh dan kyai jangan takut dengan politik. Politik jahat karena yang dijalankan itu adalah politik sekuler. [red/www.suara-islam.com] *Seperti dimuat di Tabloid Suara Islam edisi 48. |
Kusfiardi: Mereka Mengijonkan Kekuasaan
![]() |
![]() |
![]() |
| Thursday, 03 July 2008 | |
|
“Karena privatisasi itu semata untuk memberikan keleluasaan kepada pihak asing dalam menguasai sumber-sumber ekonomi nasional kita,” ujar Kusfiyardi, mantan koordinatror Koalisi Anti Utang. Sebab itu wajar pula, katanya, jika asing yang banyak mendapat keuntungan dari privatisasi ini. Untuk mengetahui lebih lanjut seputar privatisasi BUMN ini dan siapa yang bermain di dalamnya, berikut wawancaranya dengan wartawan Suara Islam, Pendi Supendi, beberapa waktu lalu. Komentar Anda terhadap rencana privatisasi BUMN? Saya melihat privatisasi itu latar belakangnya tidak diketahui secara jelas oleh pihak-pihak yang terkait dalam pengambilan keputusan soal rencana privatisasi tersebut. Misalnya privatisasi BUMN itu kan masuk dalam APBN. APBN itu sendiri harus disahkan oleh DPR karena kedudukannya sama dengan UU. Tetapi kebutuhan akan privatisasi ini itu missleading informasinya. Misalnya disebutkan karena BUMN itu sarangnya korupsi, tidak efesien, dan merugi, atau kita tidak punya duit sehingga ini lebih baik dijual saja. Nah mereka tidak menjelaskan ada motif lain yang melatarbelakangi mengapa harus dilakukan privatisasi itu. Kalau kita lihat, privatisasi itu sebenarnya rencana yang sudah lama. Karena satu hal yang harus kita tahu BUMN itu karakteristiknya public service obligation, artinya ia menyangkut hajat hidup orang banyak. Yang kedua terkait dengan faktor yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak Sehingga keberadaan BUMN tersebut sesungguhnya punya misi melayani. Tidak ada BUMN itu menurut konstitusi harus untung.
Lalu kenapa BUMN itu harus diprivatisasi? Ya itu yang menarik selama ini, orang-orang yang bernama mafia Berkeley itu dengan sistematis telah memanipulasi pentingnya keberadaan BUMN itu dalam kepentingan ekonomi nasional kita. Itu mereka lakukan dengan cara memberikan ruang yang luas kepada lembaga-lembaga asing seperti Bank Dunia dan IMF untuk memberikan evaluasi-evaluasi. Contohnya di sektor listrik. Di awal-awal membangun infrastruktur listrik, Bank Dunia dengan jelas mengatakan ini adalah barang publik dan masuk ke dalam layanan publik sehingga harus dikuasai oleh negara dalam bentuk monopoli sehingga dipastikan semua orang mendapatkan akses terhadap listrik. Tentu ini tidak bertentangan dengan konstitusi kita di awal-awal. Tapi ketika itu sudah dijalankan, itu kan perlu pengembangan lebih lanjut infrastrukturnya ini di samping perlu perawatan. Lalu Bank Dunia menawarkan persyaratan, kita akan evaluasi dulu BUMN ini. Lalu keluar evaluasi yang menunjukkan bahwa BUMN ini merugi. Yang mereka gunakan adalah standar laporan rugi laba yang digunakan oleh perusahaan privat. Tentu ini kan nggak pas.
Kenapa standarnya bisa berbeda? Nah di sinilah kita lihat bahwa sebenarnya Bank Dunia itu telah melakukan kebohongan publik. Kalau kita cek lagi dengan ceritanya Jhon Perkins, sebenarnya memang itu tujuan mereka. Membuat perencanaan yang optimistik tentang pembangunan infrastruktur listrik, lalu menawarkan dalam jumlah besar supaya diambil oleh pemerintah Indonesia dan tidak terbayarkan. Kan begitu rencananya.
Jadi singkatnya ada kepentingan asing di balik privatisasi BUMN-BUMN itu? Ya, itu upaya untuk memberikan keleluasaan kepada pihak asing dalam menguasai sumber-sumber ekonomi nasional kita. Tidak ada hubungannya dengan upaya untuk membayar utang LN seperti yang tercantum dalam APBN. Sebab hasil dari privatisasi itu berapa sih? Paling 5 trilyun, 8 trilyun. sementara itu pemerintah harus bayar utang sekitar 150 trilyun. Tidak ada hubungannya juga dengan BUMN yang merugi dan lainnya itu.
Lalu siapa yang diuntungkan dengan privatisasi itu? Yang diuntungkan jelas kelompok kapitalis asing dan kapitalis nasional. Tetapi saya kira keuntungan terbesarnya tetap dinikmati asing. Karena bisa jadi pihak-pihak asing itu juga memafaatkan kapitalis lokal atau pemilik modal nasional, sehingga tidak mendapat resistensi dari masyarakat. Jadi selalu penjajahan bentuk baru itu terjadi karena ada kolaborasi antara pihak-pihak asing dengan pihak domestik. Dan kolaborasi itu tidak hanya melibatkan pengusahanya, tapi juga melibatkan akademisi, pemerintahan, politisi untuk memuluskan agenda-agenda mereka.
Kompensasi apa yang didapat agen-agen itu? Sebagai kompensasinya asing memberikan ruang ekspresi, seperti dijadikan menteri keuangan terbaik lah, dapat penghargaan akademis, atau tetap berkuasa di panggung politik. Itu kompensasi yang mereka terima. Jadi mereka itu adalah orang yang mengijonkan kekuasaan. Yang penting saya berkuasa. Tak peduli soal bangsa ini, rakyat ini mau bagaimana. Itulah yang kita sebut dengan pengkhianat itu sebenarnya.
Kalau begitu asing itu sekarang sudah antri untuk membeli BUMN-BUMN itu? Oh itu sudah direncanakan sejak lama. Jadi begitu Soekarno jatuh tahun 1965, sebelum UU PMA keluar, sudah ada pertemuan di Jenewa yang dihadiri oleh perusahaan-perusahaan besar dunia. Di sana dibicarakan bagaimana pembagian kue ekonomi Indonesia. Pertemuan itu bukan hanya membicarakan bisnis minyak, tambang, tapi termasuk retail juga. Setelah pertemuan di Jenewa itu keluarlah produk pertama dari pemerintahan Soeharto atau tepatnya produk pertama dari mafia Berkeley, yaitu UU Penanaman Modal Asing yang sekarang digantikan dengan UU PMA yang baru. UU PM yang baru juga dikerjakan oleh agen asing.
Siapa sebenarnya yang sangat berperan dalam proses privatisasi BUMN ini? Ya menteri keuangan. Menkeu dari waktu ke waktu yang mengerjakan itu. Kemudian didukung oleh Meneg BUMN, oleh BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal). Di sini jelas menteri keuangan itu menjadi penguasa atas seluruh kekayaan republik Indonesia. Menteri keuangan itu sekaligus berperan sebagai bendahara negara. Seluruh perencanaan keuangan otorisasinya ada di menteri keuangan, bukan di tangan presiden. Bahkan presiden sekalipun kalau ingin mengeluarkan keuangan harus izin menteri keuangan. Seluruh APBN itu semua otorisasinya ada di menteri keuangan. Termasuk penjualan BUMN. Penjualan BUMN itu tidak akan terjadi kalau tidak ada izin menteri keuangan. Nah persoalannya menteri keuangan itu menjalankan perintahnya lembaga seperti Bank Dunia, ADB, termasuk Amerika IMF dan seterusnya. Bahkan bisa jadi menteri keuangan juga menjalankan apa yang dimaui oleh perusahaan-perusahaan asing. Itu terjadi sejak tahun 1980-an.
Kalau begitu Anda ingin mengatakan menteri keuangan itu sebagai antek asing? Anteknya ya jelas Menteri Keuangan. Sejak kapan menteri keuangan itu dikasih ke partai politik. Selalu pasti para ekonom dari UI atau UGM yang termasuk dalam kelompok Mafia Berkeley. Ya mereka itu lah yang cara berpikir dan perkataannya selalu berdasar agenda-agenda Washington Consensus. Termasuk Menteri Koordinator Perekonomian. Itu kan sudah menjadi satu tim. Makanya tim ekonomi selalu dikuasai oleh Mafia Berkeley. Atau orang-orang yang bisa bekerja sama dengan Mafia Berkeley. Jadi boleh saja Menteri BUMN dipegang oleh partai politik, atau Kepala Bappenas dipegang oleh yang bukan Mafia Berkeley. Tapi mereka itu adalah orang yang sangat patuh kepada Mafia Berkeley. Kapan mereka menentang kemauan Mafia Berkeley? Tak Pernah. Termasuk Gubernur BI. Jadi semua yang berhubungan dengan sektor ekonomi, keuangan dan sumber daya seperti Gubernur BI, Menko Perekonomian, Menkeu, Menteri Perdagangan, Meneg BUMN, Meneg ESDM, jelas mereka kuasai semuanya.
Itu pula yang menyebabkan Boediono terpilih sebagai Gubernur BI? Iya lah. Sangat wajar. Supaya upaya untuk meneror perekonomian kita bisa lebih mudah. Bagaimana mereka melakukan teror terhadap perekonomian kita? Itu sudah dilakukan sejah awal 1997 kemarin. Pemerintah harus melepas standar nilai tukar ke pasar. Sehingga setiap hari bisa berubah. Nah ketika nilai tukar berubah, maka instrumen untuk mengendalikannya kan suku bunga SBI (Sertifikat Bank Indonesia). Kalau suku bunga SBI itu naik maka yang terbebani APBN. Ketika APBN terbenani maka defisitnya kan nambah. Nah ketika seperti itu mereka jadi mempunyai alasan untuk bikin utang baru dan menjual BUMN. Jadi tujuannya bukan hanya sekadar untuk mengamankan perekonomian nasional.
Apakah DPR tidak mengerti akan hal itu? Ya itu yang memang patut kita pertanyakan sebenarnya, dan perlu kita sikapi dengan kritis. Bisa jadi sebenarnya DPR juga sudah kesusupan agen-agen asing ini. Ya bukan seluruh anggota DPR nya. Tapi kesusupan itu bisa jadi agen-agen itu sudah ada di semua partai politik. Mereka ditempatkan di komisi-komisi tertentu. Tugasnya cuma satu, memuluskan apa yang diusulkan oleh pemerintah. Atau bisa juga diperdaya dengan praktek suap seperti yang dilakukan oleh BI itu. Praktek suap itu juga dilakukan langsung oleh Bank Dunia sebenarnya untuk pembahasan UU itu. Makanya waktu pembahasan UU Sumber Daya Air, pembahasannya kan bukan di DPR, tapi di Lippo sana. Dan yang memberikan fasilitas itu Bank Dunia. Lalu ditambah dengan uang saku, uang makan, ditambah paket perjalanan ke luar negeri dan sebagainya.
Adanya BUMN yang dianggap tidak efesien apa itu bisa jadi alasan privatisasi BUMN? Ya tidak lah. Sekarang saya tanya, Anda punya warung, Warung Anda merugi. Apa yang yang Anda lakukan. Anda akan melakukan evaluasi kan. Anda akan mengevaluasi apa barangnya kemahalan, apa karyawan Anda melakukan kecurangan. Jadi tidak mesti dijual. Nah celakanya begini, pemerintah melakukan privatisasi terhadap BUMN karena dianggap merugi. Lalu BUMN itu diperbaiki dulu biar bagus. Setelah bagus malah dijual. Yang gendeng (gila-red) itu siapa? Kalau BUMN itu bisa diperbaiki lalu kenapa dijual? Jadi tidak benar kalau disebut BUMN itu merugi, saya masih belum percaya. Karena BUMN itu punya market yang jelas.
Bisa tidak kita menggagalkan penjualan BUMN-BUMN itu? Bisa. Caranya kita ganti menteri keuangannya, ganti menteri BUMN nya, atau DPR melarang dan membatalkan rencana penjualan BUMN itu. Kalau pun itu sudah ada dalam UU, maka UU-nya itu yang diamandemen. Pembatalan privatisasi BUMN itu saya kira bukan hal yang rumit.
Kalau dibatalkan apa itu tidak akan mempengaruhi kepercayaan asing untuk investasi di Indonesia? Bukan. Yang terjadi itu akan mengurangi kepercayaan asing kepada mereka untuk mendukungnya tetap dalam kekuasaan.
Baru-baru ini pemerintah berencana untuk membuat utang baru, ada apa ini sebenarnya? Ya, tugas Mafia Berkeley duduk di kekuasaan, terutama sebagai menteri keuangan itu, memang untuk membuat utang. Jadi tugas mereka yang pertama adalah memastikan pembayaran utang-utang lama, dan yang kedua meneruskan utang-utang yang baru. Itu bukan hal yang aneh. Itu bagian dari job description-nya. Padahal kalau sampai kita itu tidak membayar utang, APBN kita bisa surplus. Jadi misalnya begini, tahun lalu, kalau tidak salah, pembayaran utang LN kita kira-kira ada 92 trilyunan. Defisisit APBN kita ada sekitar 40 trilyunan. Kalau kita tidak bayar utang luar negeri, maka hitung saja, minus 40 trilyunan ditambah 92 Trilyunan, kita akan surplus sekitar 50 trilyunan. Nah kalau kita sudah surplus seperti itu pertanyaan berikutnya apakah kita masih perlu jual BUMN? Apakah kita masih bikin utang baru, ya nggak. Jadi itulah pentingnya asing memasang orang yang kita sebut Mafia Berkeley itu. Tujuannya ya supaya agenda-agenda mereka bisa jalan. Mereka ditugaskan memang bukan untuk menyejahterakan rakyat atau demi kepentingan nasional. Mereka hanya memikirkan, yang penting bagaimana mereka tetap berkuasa. Jadi mereka itu adalah intelektual pelacur kalau dalam tata bahasa saya. Bukan intelektual rahmatan lil alamin,
Apa bedanya intelektual pelacur dengan intelektual rahmatan lil alamin? Intelektual rahmatan lil alamin ini begini, dia balajar, dia punya ilmu, dia terapkan ilmunya di masyarakat. Kalau intelektual pelacur ini punya syahwat kekuasaannya tinggi, ia tidak bekerja untuk rakyat, tapi hanya untuk kepentingan dirinya sendiri dan orang-orang terdekatnya. Untuk itu mereka membutuhkan pihak-pihak lain yang bisa menjadi back up politiknya. Nah merekalah yang melanggengkan penjajahan gaya baru di Indonesia ini.
Menurut Anda, seharusnya apa yang perlu dilakukan terhadap BUMN itu? Jelaslah penguasaan faktor-faktor produksi yang penting bagi negara dan menyangkut hajat hiudp orang banyak harus dikuasai oleh negara. Yang kedua, bagaimana faktor-faktor produksi yang penting bagi negara dan menyangkut hajat hidup orang banyak itu memang betul-betul dikelola sesuai dengan tujuan untuk kemaslahatan umat. Jadi sekarang ini bagaimana sistem pengelolaannya bisa betul-betul tidak bertumpu semata-mata pada faktor figur. Tapi juga ada pada sistemnya. Jadi yang itu semua bisa dikelola dengan sistem yang baik dan bisa dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
Ditempa Sejak Kuliah Kusfiyardi lahir di Pekanbaru tahun 1973. Pendidikan sekolahnya dari SD hingga lanjutan atas dijalaninya di kota tersebut. Saat menjalani kehidupan di tanah kelahirannya itulah ia merasakan bagaimana listrik, telepon umum dan fasilitas lainnya sangat minim. Jalan besar yang beraspal itu pun berlubang-lubang sehingga kalau hujan tergenang seperti danau. “Dalam konteks pembangunan memang seadanya,” terangnya. Ia pun melihat bagaimana kondisi masyarakatnya yang jomplang dan dipenuhi kemiskinan. Setelah SMA yaitu tahun 1991, ia kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Islam Indonesia Yogjakarta, mengambil jurusan akuntansi. Ia pun kemudian mulai aktif di organisasi kemahasiswaan seperti senat dan Dewan Permusyawaratan Mahasiswa UII serta di forum-forum diskusi, serta Ikatan Mahasiswa Ekonomi Indonesia. Ketika mengambil mata kuliah akuntansi pemerintahan yang diajarkan oleh Revrisond Baswir, pengetahuannya makin bertambah terutama tentang kondisi Republik Indonesia ini. ”Saya jadi tahu siapa yang mengelola uang negara ini, bagaimana itu dikelola, untuk kepentingan apa, pencatatannya seperti apa dan segala macam,” ujarnya. Di situ pikirannya semakin terbuka sehingga Ardi makin tertarik untuk mendalami masalah ekonomi dan pembangunan. Selanjutnya ia bergabung dengan organisasi Liga Mahasiswa Muslim Yogjakarta. Kemudian membentuk Gerakan Aliansi untuk Keadilan guna merespon isu-isu pembangunan. Usai kuliah, ia sempat bergabung dengan IDEA (Institute for Development and Economic Analysis) yang dipimpin Revrisond Baswir. Selanjutnya ia pindah ke Jakarta dan berkenalan dengan Koalisi Anti Utang. Pada pertemuan Nasional KAU itulah ia dipilih menjadi sekretaris eksekutif KAU. Kemudian pada pertemuan nasional ke dua tahun 2004 ia terpilih menjadi koordinator KAU. Di samping itu ia banyak terlibat dengan organisasi jaringan internasional terkait pembangunan dan gerakan untuk meminta penghapusan utang luar negeri. Sejak aktif di KAU, pikirannya makin terang saja melihat bagaimana negara ini di kelola. “Kebijakan pembangunan ekonomi ini ternyata tidak hanya berdampak pada soal ekonomi semata, tapi juga sampai pada rumah tangga, dan sangat dahsyat dampaknya” terangnya. Karena itu ia pun bertekad hidupnya ke depan sebisa mungkin tidak ikut berkontribusi dalam merugikan masyarakat ini, termasuk kerja di pasar uang. |



Ternyata Intervensi Amerika di Indonesia sudah berlangsung lama. Intervensi itu sudah hampir meliputi seluruh sektor kehidupan di Indonesia, tak terkecuali di sektor keagamaan.
Rencana pemerintah melakukan privatisasi sejumlah BUMN sama sekali bukan untuk kepentingan rakyat. Privatisasi BUMN itu dilakukan semata hanya memenuhi kepentingan asing untuk mengeruk kekayaan alam di negeri ini. Itulah yang disebut dengan penjajahan model baru.