Membangun Negara Ideal
Dalam konsepnya, Aristoteles mengatakan bahwa negara yang ideal adalah negara yang memanusiakan manusia. Sistem pemerintahan yang ditawarkan Aristoteles untuk mewujudkan negara yang memanusiakan manusia adalah monarki (kerajaan). Dalam sistem pemerintahan monarki ini, Aristoteles menghendaki yang menjadi pemimpin negara adalah seorang filsuf-raja. Aristoteles mengklaim bahwa filsuf rajalah penguasa yang paling ideal. Menurutnya, hanya jika seorang filsuf yang menjadi raja, negara itu akan sempurna. Karena seorang filsuf-raja adalah yang paling unggul dalam kebajikan, negara yang dia perintah tidak memerlukan hukum, karena kebajikan berada di atas hukum.
Dalam kenyataannya, sangat sulit menemukan seseorang yang benar-benar paling unggul dalam kebajikan dan kearifan yang merupakan kualitas dari sang filsuf-raja. Jadi, sistem pemerintahan yang ditawarakan Aristoteles adalah mustahil. Karena itulah maka Aristoteles menawarkan sistem pemerintahan Politeia, yaitu sistem pemerintahan yang kekuasaan tertingginya berada di tangan banyak orang (seluruh warga negara). Dalam pelaksanaannya, sistem pemerintahan Politeia ini tidak dapat dilaksanakan, bahkan terjadi penyimpangan ke sistem pemerintahan yang dianggap paling buruk oleh Aristoteles: Demokrasi. Demokrasi adalah sistem pemerintahan yang dipegang oleh banyak orang (seluruh warga negara) dan digunakan untuk kepentingan, kebaikan dan kesejahteraan beberapa gelintir orang yang memegang kekuasaan itu.
Sistem pemerintahan yang lebih hebat dari sistem pemerintahan yang ditawarkan Aristoteles terbentuk saat Negara Madinah di bawah pimpinan Nabi Muhammad saw. Negara Madinah, dengan Piagam Madinah-nya, yang merupakan aturan hidup yang digali dari al-Quran, adalah cikal-bakal berdirinya Daulah Islam yang berkuasa selama kurang-lebih14 abad dengan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat yang terpenuhi dengan baik.
Dalam sistem pemerintahan yang dibentuk oleh Nabi Muhammad saw. dan dilanjutkan pada masa Kekhalifahan, ada empat pilar utama Negara: Pertama, kekuasaan di tangan banyak orang (rakyat). Kedua, kedaulatan di tangan Allah (syariah). Ketiga, penguasa (Khalifah) hanya boleh satu orang dan merupakan kewajiban seluruh kaum Muslim untuk mengangkatnya. Keempat, yang berhak mengesahkan dan mengadopsi aturan yang digali dari al-Quran dan Sunnah hanyalah Khalifah. Inilah negara Ideal yang menetapkan akidah Islam sebagai pondasi bangunan negaranya. Wallâhu a‘lam. [Hadis, AMK; Manager Rumah Tangga, tinggal di Kasongan, Kalteng]
Di Bawah Naungan Khilafah
Pancaran pesona Islam memudar seiring dengan runtuhnya Daulah Ustmaniyah di Turki pada tahun 1924. Saat ini negeri-negeri kaum Muslim telah terpecah-belah dan terserak hampir lima puluh negara. Kemilau cahaya Islam sedikit demi sedikit meredup dan terkikis oleh waktu. Kokohnya semangat akidah Islam mulai teracuni oleh paham-paham seperti nasionalisme, demokrasi, HAM, Kapitalisme, dan liberalisme. Praktis sejak saat itu hingga saat ini Islam tidak digunakan sebagai ideologi dalam pemerintahan dan bernegara. Islam hanya dipakai dalam ibadah ritual semata. Islam hanya dimaknai sebagai lips-service belaka. Sistem dan ideologi yang digunakan oleh negeri-negeri kaum Muslim sekarang adalah Kapitalisme-sekular; sebuah bentuk pemerintahan yang tidak pernah dicontohkan oleh Baginda Rasulullah saw. dan para Sahabat. Implikasi dari penafian Islam sebagai ideologi adalah penerapan hukum dan sistem negara yang berjauhan dengan syariah Islam. Padahal Islam adalah agama yang mengatur tiap sendi dan hirupan nafas kehidupan manusia. Cakupan Islam sebagai mabda’ (ideologi) tidak hanya dalam beribadah saja, tetapi Islam mengatur kehidupan pribadi seseorang bahkan bernegara (politik). Itu hanya akan terlihat apabila Islam digunakan sebagai mabda (ideologi) yang mengatur secara komprehensif.
Islam mempunyai sistem yang khas, yang tentu saja sangat berbeda dengan sistem kufur buatan manusia yang terbukti sangat kontraproduktif ketika digunakan untuk menangani masalah-masalah yang muncul dalam tataran bernegara. Tentu saja setiap mencari solusi masalah, Islam selalu bersandar pada al-Quran dan as-Sunnah sebagai sumber hukum tertinggi.
Hanya dalam negara yang berideologi Islam di bawah naungan Daulah Khilafah saja semua masalah umat akan teratasi. Islam akan terpancarkan bak cahaya zamrud dari Andalusy yang cahayanya akan menyilaukan sistem atau ideologi sekular. Islam akan menjadi rahmatan lil ‘alamin ke segenap penjuru semesta alam apabila terwujud dalam sebuah negara. Hanya Daulah Islamiyah yang bisa menerapkan semua seruan Allah sehingga menusia hanya berhukum pada hukum-Nya dalam segala hal.
Ketika ideologi Islam itu tidak diterapkan di sebuah negara, maka kita sebagai kaum Muslim wajib menegakkannya kembali untuk menerapkan hukum-hukum Allah.
Sungguh, hanya dengan ideologi Islamlah segenap asa dan cita itu akan terwujud kembali. Sungguh, hanya Daulah Khilafah sajalah satu-satunya bentuk negara yang bisa mempersatukan negeri-negeri kaum Muslim yang terserak dalam satu ikatan akidah yang memberkah. Hanya Daulah Khilafah pula yang bisa mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia untuk menebarkan cahaya kemuliaan dan keagungannya, sekaligus melindas setiap ideologi-ideologi buatan tangan manusia. Sesungguhnnya agama (sistem) yang diridhai disisi Allah hanyalah Islam. (QS Ali Imran [3]:19). Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb. [Apu’ El Indragiry; Penyair dan Penulis Buku Puisi-Puisi Cinta, tinggal di Yogyakarta]
Buruh Tani
buruh tani mahasiswa rakyat miskin kota
bersatu padu rebut demokrasi
gegap gempita dalam satu suara
demi tugas suci yang mulia
hari-hari esok adalah milik kita
terciptanya masyarakat sejahtera
terbentuknya tatanan masyarakat
Indonesia baru tanpa Orba
marilah kawan, mari kita kabarkan
di tangan kita tergenggam arah bangsa
marilah kawan, mari kita nyanyikan
sebuah lagu tentang pembebesan
di bawah kuasa tirani
kususuri garis jalan ini
berjuta kali turun aksi
bagiku satu langkah pasti
Ilir-Ilir (Sunan Kalijaga)
lir-ilir, lir-ilir tandure wus semilir
tak ijo royo royo dak sengguh temanten anyar
cah angon cah angon penekna blimbing kuwi
lunyu lunyu penekna kanggo mbasuh dodod ira
dodod ira dodod ira kumitir bedah ing pinggir
dondomana jumetana kanggo seba mengko sore
mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
ya suraka…. surak
lir-ilir, lir-ilir tandure wus semilir
tak ijo royo royo dak sengguh temanten anyar
(lihatlah kini waktu menanam bibit semai telah datang, begitu hijau
segar laksana pengantin baru)
sebelum padi ditanam di sawah ada sepetak kecil yang dibuat untuk
persemaian yaitu menumbuhkan benih. setelah benih benih tumbuh
menjadi bibit yang siap ditanam di sawah, ditempatkan di posisinya
dimana serumpun kecil yang terdiri dari beberapa benih akan tumbuh
menjadi serumpun padi hingga nanti akan membuahkan bulir bulir yang
hari demi hari akan semakin berat berisi membuat pucuk pucuk rumpun
padi itu semakun merunduk. tibanya saat tandur (menanam) yaitu saat
meletakkan bibit di posisinya ditandai dengan ketinggian bibit di
persemaian dan warnanya hijau segar lebih hijau dari padi yang sudah
dewasa. bibit padi akan diletakkan di posisinya bersama dengan
serumpun kecil bibit yang lain mereka harus bekerja sama dengan
partner partner kerja mereka dengan harmonis untuk menghasilkan buah
padi terbaik. seperti pengantin yang baru dipertemukan dengan suka
cita mereka bertemu dan berkenalan dengan partner kerjanya dan
memulai sambung rasa yang sinergis sebagaimana layaknya pengantin
baru yang siap mengarungi bahtera rumah tangga.
===========================================
cah angon cah angon penekna blimbing kuwi
lunyu lunyu penekna kanggo mbasuh dodod ira
(wahai anak gembala tolong panjatkan pohon (petik) blimbing walau
licin tolong panjatkan untuk bebersih baju kebesaranmu)
memanjat pohon harus hati hati dan jangan luput memandang ke atas
mengamati ranting mana yang harus diraih, apalagi licin harus lebih
hati hati salah salah malah bisa jatuh babak belur. dengan hati yang
bersih dan penuh hormat kepada pohon belimbing sang pemilik buah
yang diatas sana tersimpan buah buah yang kita perlukan. petik
beberapa butir belimbing secukupnya untuk membasuh dodod bajunya
sendiri yang kotor. belimbing wuluh biasa dipakai untuk bahan
pencuci jika baju terkena kotoran yang sukar dibersihkan dengan cara
biasa.
==============================================
dodod ira dodod ira kumitir bedah ing pinggir
dondomana jumetana kanggo seba mengko sore
(baju kebesaranmu telah terkoyak jadi jahitlah tambal kembali untuk
bertahta sore hari ini)
baju kebesaran itu ternyata selain kotor juga robek terkoyak karena
itu juga dengan hati yang ikhlas harus ditisik, ditambal, dijahit
agar cukup pantas untuk dikenakan dalam acara seba sore ini bersama
para sanak saudara dan tamu tamu yang datang. supaya para tamu
merasa dihormati dan dihargai juga para sanak saudara merasa
tentram, baju kebesaran yang indah sangat perlu. seba adalah
berkumpul dengan sanak saudara juga tamu tamu di paseban atau
pendopo untuk sekedar minum minum atau membicarakan masalah masalah
penting, membahas strategi yang dilakukan dalam suasana santai dan
akrab agar dapat dicapai suatu keputusan yang berdampak maksimal
untuk kebaikan.
===============================================
mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
ya suraka…. surak
(selagi terang bulan selagi luas tempatnya, dan bersoraklah
gembira ….)
segala sesuatu tak lepas dari waktu, saat, mangsa yang baik. saat
terang bulan adalah saat yang tepat di saat seisi alam semesta
keluar melantunkan pujian kepada Gusti ingkang murba ing Jagad.
segala sesuatu biar disaksikan segenap makhluk dan direstui oleh
alam semesta. apalagi semua kesempatan sedang terbuka lebar, cukup
lebar untuk mengadakan tarian pujian kepada keagungan alam semesta,
kebesaran Sang Hyang Tunggal. dengan begitu janganlah ragu lagi
untuk tetap bergembira merayakan semua ini, kalau ingin bersorak
juga bersoraklah dengan gembira penuh ekspresi.